Langsung ke konten utama

Sebuah Ayunan #5

"RAKA"


Semakin hari keadaan Sunni semakin membaik. Karena itu, dokter memperbolehkan ia dirawat dirumah, meski masih ada beberapa alat rumah sakit yang harus dibawa pulang juga. Tapi itu sudah lebih dari cukup daripada ia harus terus tinggal dirumah sakit.

Sebenarnya sabtu ini aku berencana untuk mengajak Sunni jalan-jalan ke mall dan mengajaknya ke bioskop. Tapi orangtuanya sedikit khawatir, jadi ku urungkan niatku itu. Hanya saja, aku benar-benar tidak tega melihatnya hanya mondar-mandir dirumah dan melihat acara TV yang membosankan. 

Akhirnya kuputuskan untuk membeli beberapa dvd film terbaru dan ku ajak ia nonton bersama dirumahnya. Sunni setuju, bahkan ia memberi ide untuk membuat pop corn dan membeli beberapa camilan lain untuk teman saat kita nonton nanti. Untuk minumannya, berhubung ia tidak boleh minum sembarangan, jadi ia hanya membeli air mineral dan susu saja.

Aku senang, karena ku lihat Sunni terus tersenyum hari ini. Dari awal ku ajak iya nonton, lalu kita ke super market untuk belanja makanan, hingga kami selesai nonton film, senyum itu masih ada di wajahnya.

Aku ingin terus membuatnya tersenyum seperti itu. Membuatnya menjadi wanita yang istimewa di hidup ku. Dan aku ingin terus hidup bersamanya. Tapi, apakah itu mungkin? Karena terbesit sebuah pikiran dikepalaku yang berpikir bahwa keadaan seperti ini tidak akan bertahan lama lagi. Aahh… ku buang pikiran buruk tentang aku dan Sunni.


Hari ini Sunni menelepon ku, ia bilang ingin pergi ke taman dan bermain ayunan selagi ia masih ada waktu. Aku agak heran dengan kata-katanya. Tapi, daripada aku berdebat dan membuatnya sedih, lebih baik ku iyakan saja. Sampai sana, ia terlihat senang dan berlari menuju ayunan tua itu. Tapi ada yang aneh. Tatapan matanya datar dan kosong. Ia memang tersenyum, tapi matanya… benar-benar hampa. Ia menggoyang-goyangkan ayunan itu, ia minta aku mendorongnya. Beberapa saat kemudian ia minta berhenti. “Raka gue capek. Udah ga kuat lagi” dengan wajah tertuduk ia bergumam. Aku pindah kehadapannya. Astaga. Ini seperti bukan Sunni. Tatapan aneh dengan wajah pucat pasi tanpa senyum ataupun air mata. “Lu kenapa Sun? Kalo capek yaudah, ayo kita pulang” kata ku sambil menggenggam tangannya yang terasa sangat dingin. Lalu tiba-tiba datang sebuah cahaya putih yang menyilauka mata dari belakang tubuh Sunni. Lalu munculah seorang anak perempuan sekitar umur 8 tahun, dan mengajak Sunni menaiki tangga yang berkilauan cahaya itu. “Raka gue pergi dulu ya” Sunni melambaikan tangannya kea rah ku sambil berjalan mengikuti anak kecil itu. Aku ingin menghentikannya saat itu juga. Namun tubuh ini tak bisa digerakkan sama sekali. Aku tidak ingin perpisahan beberapa tahun lalu terulang kembali diwaktu yang sesingkat ini. Aku hanya bisa memanggil-manggil namanya. “Sunni!!!! Sunni!!!! Sunni!!!! Sunniiiiiiiiii…………”

Mataku terbuka lebar, jantungku berdegup kencang, dan sekujur tubuhku berbalur keringat. Itu hanya mimpi. Ya, hanya mimpi. Syukurlah Tuhan. Ku tenangkan diri ini dan kembali tidur. Besok aku harus bertemu Sunni dan menceritakan mimpi ini padanya.

Dalam perjalanan kerumah Sunni, kulihat seorang nenek dipinggir jalan sedang berusaha mempertahan kan tas yang dibawanya. Nenek itu jadi sasaran perampokkan.

“Woi!!! Lepasin!!” kata ku dengan lantang dan berlari ke arah nenek itu. Ku bantu sang nenek menarik kembali tas miliknya. Perampok itu ternyata tidak datang hanya dengan satu motor. Dari arah belakanya muncul satu motor lagi, dan pelaku yang baru datang itu berlari ke arah ku kemudian menancapkan sesuatu dibagian perutku, hingga aku berhenti membantu nenek itu mempertahankan tas nya.

Aku terdiam sesaat, saat melihat sebilau pisau menancap diperutku. Aku mulai merasakan pening hebat. Kurasakan tubuh ini jatuh tersungkur ke aspal. Mata ini pun perlahan-lahan memberat. Tapi telinga ku masih bisa mendengar suara-suara didekatku. Aku mendengar suara nenek minta tolong, dan beliau mengusap keningku. Lalu tiba-tiba saja semua suara hilang, hanya tinggal mata ini yang sesekali melihat gelap dan masih bisa melihat keadaan sekitar. Tapi pikiran ku benar-benar kosong. 

Tiba-tiba saja aku merasa seperti berada diruangan serba putih dengan bau yang aneh. Ku lihat wajah sang nenek yang tak berhenti menangis dan berbicara dengan seseorang di telepon. Kenapa? Ada apa?

Ku lihat beberapa orang berpakaian jas putih, mengenakan masker dan sarung tangan karet, mendekatiku. Ku palingkan wajah ku kesebelah kanan. Ada seorang gadis menahan sakit dan kemudian melihat kea rah ku. “Sunni….” Kusebut namanya dan berusaha menggapai tangannya. Dia mengulurkan tangannya, ku pandangi wajahnya sesaat. Jantung ini seperti berhenti berdetak. Kemudian gelap, dan kurasakan jiwa ini melayang seperti layang-layang yang terbawa angin kemarau…


Jika lentera itu terang…
Pasti gelap jadi benderang…
Belaian mu jadi nyata…
Karena…



“SUNNI”


Ku rasakan tubuh ini melemah dan kehilangan akal. Ku lihat langit-langit kamar yang warnanya semakin memudar. Ku dengar suara gelas pecah yang jatuh karena tersentuh tangan ini yang bergerak tak kenal arah.

Ku lihat kedua orang tua ku datang dan memperlihatkan wajah panik karena suaraku yang mengaduh kesakitan. Ingin rasanya aku diam saja. Tapi suara ini tak bisa berhenti, malah semaki menjadi. 

Terasa tubuh ini dibopong oleh tangan kokoh ayah ku yang berusaha melindungiku  selalu. Ingin ku ucapkan terima kasih dan permohonan maaf pada ayah dan ibu. Tapi mulut ini tak sanggup berkata lain selain sakit. Aku bisa menebak kemana selanjutnya tubuh ini akan berbaring. Rumah sakit.

Sudah biasa sebenarnya. Tapi kali ini terasa berbeda. Perut ini semakin meronta hingga aku ingin merobeknya dan mengeluarkan sesuatu yang membuatnya bergolak tak henti-hentinya. Kepala ini semakin pusing, dan mata ini pun semakin berat. Nafas ini pun tak lagi normal. Ku palingkan wajah ke sebelah kiri, melihat segerombolan orang berpakaian putih berlari.

Seraut wajah pucat dengan sinar mata teduh memandangku dan mengulurkan tangannya. “Raka…” ku sebut nama pemilik wajah itu. Ku sambut uluran tangannya. Matanya terpejam. Kemudian dada ini tersengal dan mata ku merekat dalam suasana gaduh dengan ruang hampa yang pengap dan gelap…


Karena saat jiwaku dan dirimu satu…
Lantunan cinta menari di atas pasir…
Bergolak riang terbawa angin…
Sebab ini lah dunia kita…



Created by: Istyqomah Indriani

Komentar

Popular

CEPU

CEPU , setau gue itu adalah nama sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Blora, Jawa Tengah. Sayangnya gue lagi ga ngomongin tentang CEPU kecamatan, tapi arti lain dari kata CEPU jaman sekarang. Gue sendiri pun ga tau pasti kepanjangan CEPU itu apa. Awalnya gue berpikir kalo CEPU itu saudara kembarnya si CUPU , jadi gue kira kepanjangannya CEPU itu CELEN PUNYA , dan disitu gue merasa bodoh banget -_- karna ternyata CEPU itu istilah bukan kepanjangan. Huft banget -_- Sebenarnya CEPU itu masih masuk kedalam golongan manusia, tapi golongan manusia ‘muka dua’ . CEPU itu artinya: orang/teman/sahabat yang mementingkan dirinya sendiri, dan melakukan berbagai macam cara agar kepopularitasannya bertambah, meskipun harus mengorbankan orang-orang terdekatnya seperti teman/sahabat. CEPU termasuk orang yang berbahaya. Sebagian orang berpendapat kalau CEPU itu harus dimusnahkan. Sebenernya gue kurang setuju, bagaimana pun juga CEPU tetap manusia punya rasa punya hati (kaya...

CABE VS TERONG

Ok sip, kali ini gue akan bahas sesuatu yang lagi jadi trend saat ini. Yaitu CABE . Pada tau ga? Pasti pada tau dong. Lagi naik daun gitu loh (iklan teh pucuk kali.. haha). Cabe yang mau gue bahas sekarang bukan cabe sembarang cabe loh. Ga cuma ‘ Hot ’ tapi juga bikin batuk kalo salah beli (hayo pikirannya yaaa -_-) hahaha. Awalnya gue ga tau soal cabe-cabean. Kalian tau ga, gue tau soal cabe-cabean dari siapa? Dari TUKANG SAYUR di pasar!! Bayangin, sebelum gue tau, itu tukang sayur udah tau duluan. Astagfirullah -_- jadi awalnya gini. Waktu itu ibu gue mau bikin sambel, kebetulan stok cabe (cabe asli loh =_=) di kulkas (nah kan, ga mungkin gue simpen cabe-cabean dikulkas ;) udah abis, jadi beliau minta tolong gue buat beli cabe dipasar. Pas gue sampe pasar, warung yang didepan udah pada tutup (karna posisinya waktu itu udah siang menjelang sore) akhirnya gue beli dibelakang pasar, di warungnya Parimin (bukan nama sebenarnya). Gue : “bang, beli cabe merah 5 ribu sama cabe ra...

Waktu Yang Akan Menjawab

Bismillahirrahmanirrahim. Waktu itu terus berjalan sepanjang waktu. Siang berganti malam, malam berganti pagi dan pagi berganti siang. Berjalan hingga membentuk sirkulasi roda kehidupan. Terkadang, kita lupa untuk bersyukur. Tatkala kita sedang bergembira atas sesuatu, pasti setidaknya kita pernah lupa bersyukur, meski tidak setiap waktu.

C.U.R.H.A.T

Harus kah gue sedih hari ini? Harus kah gue menyesal dengan semua yang terjadi hari ini? Satu lagi.. Harus kah gue galau? :'( Gue ga tau harus gimana lagi. Di bilang hari paling sial, engga juga (kayaknya setiap hari ada aja deh sialnya -_-) Apa gue harus nangis? (please, pantang nangis!) Kalo engga semua terus gue harus ngapain? kasih gue saran dong my bloooog! (blog lu itu ga bisa ngomong dodol >> 'oh iya lupa -_-') Dan sepertinya gue mulai gila dengan semua keadaan ini. Hari ini semua orang nyuekin gue. Tanpa terkecuali si doi. Dan gue bener-bener sadar kalo ada pepatah yang nancep banget dihati gue >> "Abis manis jadi sepet terus dibuang" sial emang -_- Iya gue tau gue bukan siapa siapa di mata mereka. Tapi gue lebih sadar lagi, mereka ga akan jadi siapa siapa tanpa gue hehe (harusnya semua orang yang lagi galau berpikiran seperti itu, supaya persentase orang galau di Indonesia bahkan di dunia berkurang hihi :D) Curhat? Kayaknya gue akan ...

Jodoh di Tangan Tante Mia

Assalamualaikum, selamat ( jawab sendiri ya, haha ) Tadinya gue ga jadi nge-post cerita ini, soalnya mirip sama cerita senior gue. Tapi setelah gue pikir-pikir, mirip itu ga berarti sama kan? Jadi boleh dong gue posting? haha Jadi lah akhirnya gue posting nih cerita, haha *piiiss buat abang yang tersebut #itu juga kalo ente baca wkwkwk. Ini cerita nyata yang gue alamin sendiri. Coba dibaca aja dulu ya ceritanya, jangan cuma judulnya doang yang dibaca abis itu lu pada ngacir haha :D Langsung aja yak. ~ii~ Kalo ga salah ( berarti bener ) waktu itu hari Senin, saat gue lagi asik baca buku, tiba-tiba hp gue mengeluarkan bunyi nada dering nokia tune, yang menandakan kalo ada sms masuk. Dengan cepat gue baca isi sms nya yang berbunyi "Hai indri, lagi apa?" dan dengan polos ( intinya sih bego ) nya, gue bales "Lagi belajar bege! Pake nanya lagi!" dan ga sampai semenit, itu nomer bales sms gue lagi, dan ga kalah polosnya sama gue, dia bilang "K...