Langsung ke konten utama

Sebuah Ayunan #2

'SUNNI'

Mengapa di setiap pertemuan, ada perpisahan? Mungkinkah itu takdir? Tapi mengapa aku harus terpisah darinya karena penyakit ini? Takdir kah itu?

Rasa sakit semakin menjalar diseluruh tubuh ku ketika aku memaksakan diri untuk bergerak. Sudah 2 bulan terakhir ini kondisi kesehatan ku bertambah buruk. Aku sering keluar masuk rumah sakit. Tapi aku bertekad untuk sembuh, untuk demi hidup ku, demi orang tua ku, dan demi seseorang yang sedang menunggu kehadiran ku. Ya, itulah alasan ku bertahan hidup sampai sekarang.

Semua itu di mulai ketika aku masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Ketika itu aku sering sekali mengeluh sakit dibagian perut. Aku pikir itu hanya sakit perut biasa. Tapi suatu hari, rasa sakit itu benar-benar tidak tertahan kan lagi, dan akhirnya orang tua ku membawa ku kerumah sakit.  Dokter menyarankan agar aku di rawat inap, karena hasil pemeriksaannya baru keluar keesokkan harinya. Dan ketika hasilnya keluar, bukannya membuat aku sembuh, malah membuat kesehatan ku semakin terpuruk. Dokter mengatakan, bahwa aku terkena kanker perut stadium 3. Dan itu membuat ku kehilangan masa remaja ku dengan berlalu begitu saja.

Sejak vonis dokter waktu itu, hidup ku tak lagi secerah dulu. Aku sering melamun, tidak keluar kamar berhari-hari, dan selalu berpikir untuk mengakhiri hidup ku sendiri akan lebih baik, tapi hal itu tak pernah terwujud, karena aku terlalu takut untuk melakukan hal seperti itu, dan aku takut mengecewakan orang tua ku.

Tapi menurut dokter, aku termasuk orang yang beruntung, karena aku masih bisa bertahan hidup sampai aku lulus SMA dan kuliah. Tapi selama itu, kondisi ku semakin parah. Penyakit ini semakin berkembang. Dokter
bilang aku masih punya kesempatan sembuh walaupun hanya 10%. Awalnya aku hanya bisa pasrah mendengar perkataan dokter.

Aku sering datang ke sebuah taman kota yang berjarak sekitar 3 kilometer dari rumah ku. Biasanya aku kesana menggunakan jasa tukang ojek atau taksi jika dari tempat kuliah ku. Sudah dari SMA dulu aku sering datang kesini. Dan sejak itulah aku memperhatikan seorang pria yang setiap hari juga datang ke taman itu hanya untuk duduk disebuah ayunan sambil melamun tanpa memainkannya. Dan ku lihat tatapannya kosong. Seperti orang yang memiliki beban hidup yang sangat berat. Dan sebenarnya, aku ingin tahu apa yang sedang dipikirkannya. Dan pikiran itu selalu menghantui ku hingga saat ini.

Sebelum ia datang, aku masih punya kesempatan untuk bermain ayunan ini. Rasanya seperti melupakan beban hidup ini sejenak, ketika menghempaskan tubuh yang ikut mengayun bersama ayunan tua ini. Kupejamkan mata dan menikmati hembusan angin yang menerpa seluruh tubuh ku. Dan saat itulah aku merasa bebas. Seperti melayang ke udara. Tapi keadaan itu tidak pernah bertahan lama. Karena jika ia datang, aku langsung buru-buru meninggalkan ayunan dan duduk di sebuah bangku taman yang berjarak sekitar 25 meter dari tempat ayunan berada, untuk memperhatikannya.

Tapi suatu hari, aku datang terlambat ke taman karena ada tugas kuliah yang harus aku kerjakan. Aku melihat ia sudah duduk di ayunan tua itu. Aku benar-benar kalut dan bingung. Karena ia pasti akan lama duduk disana. Dan aku tidak bisa memastikan kapan ia akan beranjak dari ayunan itu. Tapi aku bersabar dan menunggunya pergi. Kulihat jam tangan ku, sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dan itu berarti aku sudah menunggunya lebih dari 2 jam. Karena aku tidak boleh pulang diatas jam 8 malam, jadi aku memberanikan diri untuk berbicara dengannya agar ia memperbolehkan aku memainkan ayunan itu, walau hanya sebentar saja.

“boleh gantian ga main ayunannya? Gue liatin dari tadi lu udah lama mainan ayunan ini. Gue kan juga mau. Gantian ya? Please” kata ku dengan nada memelas. Mungkin ia iba melihat raut wajah ku yang tampak lesu dan pucat, jadi ia mempersilahkan aku menggunakan ayunan itu.
“iya boleh. Nih” katanya sambil menyodorkan tali ayunan kepada ku. Dan kupikir ini mungkin waktu yang tepat untuk bisa menjalin pertemanan dengannya.
“makasih ya. Eh, boleh minta dorongin ga? Hihihi” kata ku sambil tersenyum menunjukkan deretan gigi putih ku.
“emang ga bisa main sendiri? Gue mau pulang, udah sore” jawabannya agak membuat ku sedikit sedih, tapi aku tidak ingin menyerah secepat itu.
“yaudah yaudah, kenalan dulu. Gue sunni”  kata ku sambil mengulurkan tangan.
“raka” katanya sambil membalas uluran tangan ku.
“yaudah sono pulang. Hahaha” kata ku mencairkan suasana.
“jih koplak” katanya dengan nada yang terdengar agak sedikit jengkel.

Yah, mungkin itu adalah salam pertemuan terburuk yang pernah ada. Tapi sejak hari itu, hidup ku tak seburuk hari-hari setelahnya.  Karena setelah hari itu, kami sering bertemu dan ngobrol berdua. Kami semakin akrab dan semakin dekat. Sampai-sampai Raka sering mengantarku pulang kerumah.
Suatu hari Raka mengajak ku ke taman agak sore. Seperti biasa, kami main ayunan. Raka mendorong aku yang sedang duduk di ayunan. Aku memejamkan mata, dan itu kebiasaan ku ketika bermain ayunan. Perlahan aku mulai merasakan keganjilan. Ayunannya semakin melemah, dan aku tidak lagi merasakan dorongan tangan Raka. Aku takut terjadi sesuatu, jadi aku membuka mata. Dan saat itulah aku benar-benar terkejut. Aku melihat Raka sudah berjongkok dihadapan ku.

“Sun, gue suka sama lu. Gue sayang sama lu. Gue ga tau sejak kapan perasaan ini muncul. Yang jelas ini serius. Gue ga pernah ngerasain yang kayak gini sama cewek lain”
“.......” aku hanya diam.
“Sun, lu mau kan jadi pacar gue?”
“.......” aku masih diam, sampai beberapa menit setelahnya pun, kami hanya saling pandang. Aku bingung harus berkata apa.
“sorry ya Sun, gue ga bermaksud bikin lu kaget. Gue minta maaf juga, gue ga bisa nembak cewek dengan cara yang romantis.  Gue...  gue baru kali ini nembak cewek Sun. Kalo lu ga terima gue gapapa kok” Raka menundukkan kepalanya dengan lesu. Dan aku geli melihat raut wajahnya yang seperti itu.
“huahahahahahahahahaha... komuk lu kaaa!! Hahaha” aku tertawa untuk mencairkan suasana.
“kok lu malah ketawa sih? Gue serius tau!” katanya dengan nada agak membentak. Dan aku hanya bisa diam lagi, kupikir aku salah bicara.

Tapi sedetik kemudian, aku memandangnya, dan berkata “iya. Gue mau jadi pacar lu” dan perasaan bahagia itu tak bisa di gambarkan lewat apapun. Kulihat Raka melompat-lompat kegirangan. Dan itu membuat ku tertawa geli melihat tingkahnya yang lucu, dan kemudian memelukku.
“makasih ya Sun, makasih banget udah mau jadi pacar gue. Dan lu yang pertama”
“iya. Lu juga yang pertama kok buat gue”

Dan sejak saat itu hari-hari ku menjadi lebih berwarna dan bahagia. Hubungan kami pun juga semakin baik. Tapi, tidak dengan penyakit ku. Penyakit ini semakin parah. Kanker ini sudah menjalar kebagian tubuh ku yang lain. Aku takut jika Raka mengetahui hal ini, ia akan meninggalkan ku. Aku tidak ingin hal itu terjadi. Aku ingin sembuh! Aku ingin bersamanya dalam keadaan sehat. Jadi aku putuskan untuk fokus menjalani pengobatan. Dengan kata lain, untuk sementara waktu, aku meninggalkan kuliah, dan meninggalkan Raka, sampai aku sembuh.

Dihari pepisahan itu, aku tidak bisa menahan tangis ku karena akan berpisah dengannya sementara waktu. Aku berjanji kepadanya akan kembali untuknya, dan menemuinya di taman itu, di sebuah ayunan tua, tempat kita pertama kali bertemu. Dan aku menangis karena aku telah membohonginya. Aku katakan bahwa aku akan pindah ke Australia bersama orang tuaku. Aku tidak bisa berkata jujur. Maafkan aku Raka. Maafkan aku. Aku terpaksa melakukan ini. Dan perpisahan itu ditutup dengan pelukan terakhirnya darinya dimalam itu.

Pernah waktu itu Raka datang kerumah. Untung saja ia tidak pernah masuk kedalam rumah ku. hanya sebatas pekarangan rumah saja. Jadi ia tidak tahu siapa saja penghuni rumah ku. Jadi ku katakan kepada pembantu dan orang tua ku, agar mengatakan bahwa kami sudah pindah jika Raka datang dan menanyakan sesuatu tentang diri ku.

Usaha ku untuk sembuh tidak semudah membalikkan telapak tangan. Buktinya, setelah 2 tahun aku menjalani kemoterapi dan perawatan intensif, aku masih belum bisa sembuh total. Tapi aku masih bisa bersyukur, karena rasa sakitnya sempat berkurang. Aku masih harus bersabar lagi untuk bisa merasakan bahagia yang sesungguhnya, seperti sebelum aku menderita penyakit ini. Dan aku ingin hidup bahagia bersama orang yang selama ini menjadi semangat ku bertahan hidup. Raka.

‘Ketika cinta ini setia...
Ia akan...kembali
Ketika cinta ini setia...
Ia akan...menyatukan dua hati yang terpisah
Ketika cinta ini setia...

Ia akan...memberikan rasa bahagia selamanya’

Komentar

Popular

CEPU

CEPU , setau gue itu adalah nama sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Blora, Jawa Tengah. Sayangnya gue lagi ga ngomongin tentang CEPU kecamatan, tapi arti lain dari kata CEPU jaman sekarang. Gue sendiri pun ga tau pasti kepanjangan CEPU itu apa. Awalnya gue berpikir kalo CEPU itu saudara kembarnya si CUPU , jadi gue kira kepanjangannya CEPU itu CELEN PUNYA , dan disitu gue merasa bodoh banget -_- karna ternyata CEPU itu istilah bukan kepanjangan. Huft banget -_- Sebenarnya CEPU itu masih masuk kedalam golongan manusia, tapi golongan manusia ‘muka dua’ . CEPU itu artinya: orang/teman/sahabat yang mementingkan dirinya sendiri, dan melakukan berbagai macam cara agar kepopularitasannya bertambah, meskipun harus mengorbankan orang-orang terdekatnya seperti teman/sahabat. CEPU termasuk orang yang berbahaya. Sebagian orang berpendapat kalau CEPU itu harus dimusnahkan. Sebenernya gue kurang setuju, bagaimana pun juga CEPU tetap manusia punya rasa punya hati (kaya...

CABE VS TERONG

Ok sip, kali ini gue akan bahas sesuatu yang lagi jadi trend saat ini. Yaitu CABE . Pada tau ga? Pasti pada tau dong. Lagi naik daun gitu loh (iklan teh pucuk kali.. haha). Cabe yang mau gue bahas sekarang bukan cabe sembarang cabe loh. Ga cuma ‘ Hot ’ tapi juga bikin batuk kalo salah beli (hayo pikirannya yaaa -_-) hahaha. Awalnya gue ga tau soal cabe-cabean. Kalian tau ga, gue tau soal cabe-cabean dari siapa? Dari TUKANG SAYUR di pasar!! Bayangin, sebelum gue tau, itu tukang sayur udah tau duluan. Astagfirullah -_- jadi awalnya gini. Waktu itu ibu gue mau bikin sambel, kebetulan stok cabe (cabe asli loh =_=) di kulkas (nah kan, ga mungkin gue simpen cabe-cabean dikulkas ;) udah abis, jadi beliau minta tolong gue buat beli cabe dipasar. Pas gue sampe pasar, warung yang didepan udah pada tutup (karna posisinya waktu itu udah siang menjelang sore) akhirnya gue beli dibelakang pasar, di warungnya Parimin (bukan nama sebenarnya). Gue : “bang, beli cabe merah 5 ribu sama cabe ra...

Waktu Yang Akan Menjawab

Bismillahirrahmanirrahim. Waktu itu terus berjalan sepanjang waktu. Siang berganti malam, malam berganti pagi dan pagi berganti siang. Berjalan hingga membentuk sirkulasi roda kehidupan. Terkadang, kita lupa untuk bersyukur. Tatkala kita sedang bergembira atas sesuatu, pasti setidaknya kita pernah lupa bersyukur, meski tidak setiap waktu.

C.U.R.H.A.T

Harus kah gue sedih hari ini? Harus kah gue menyesal dengan semua yang terjadi hari ini? Satu lagi.. Harus kah gue galau? :'( Gue ga tau harus gimana lagi. Di bilang hari paling sial, engga juga (kayaknya setiap hari ada aja deh sialnya -_-) Apa gue harus nangis? (please, pantang nangis!) Kalo engga semua terus gue harus ngapain? kasih gue saran dong my bloooog! (blog lu itu ga bisa ngomong dodol >> 'oh iya lupa -_-') Dan sepertinya gue mulai gila dengan semua keadaan ini. Hari ini semua orang nyuekin gue. Tanpa terkecuali si doi. Dan gue bener-bener sadar kalo ada pepatah yang nancep banget dihati gue >> "Abis manis jadi sepet terus dibuang" sial emang -_- Iya gue tau gue bukan siapa siapa di mata mereka. Tapi gue lebih sadar lagi, mereka ga akan jadi siapa siapa tanpa gue hehe (harusnya semua orang yang lagi galau berpikiran seperti itu, supaya persentase orang galau di Indonesia bahkan di dunia berkurang hihi :D) Curhat? Kayaknya gue akan ...

Jodoh di Tangan Tante Mia

Assalamualaikum, selamat ( jawab sendiri ya, haha ) Tadinya gue ga jadi nge-post cerita ini, soalnya mirip sama cerita senior gue. Tapi setelah gue pikir-pikir, mirip itu ga berarti sama kan? Jadi boleh dong gue posting? haha Jadi lah akhirnya gue posting nih cerita, haha *piiiss buat abang yang tersebut #itu juga kalo ente baca wkwkwk. Ini cerita nyata yang gue alamin sendiri. Coba dibaca aja dulu ya ceritanya, jangan cuma judulnya doang yang dibaca abis itu lu pada ngacir haha :D Langsung aja yak. ~ii~ Kalo ga salah ( berarti bener ) waktu itu hari Senin, saat gue lagi asik baca buku, tiba-tiba hp gue mengeluarkan bunyi nada dering nokia tune, yang menandakan kalo ada sms masuk. Dengan cepat gue baca isi sms nya yang berbunyi "Hai indri, lagi apa?" dan dengan polos ( intinya sih bego ) nya, gue bales "Lagi belajar bege! Pake nanya lagi!" dan ga sampai semenit, itu nomer bales sms gue lagi, dan ga kalah polosnya sama gue, dia bilang "K...