Langsung ke konten utama

Sebuah Ayunan #1

'RAKA'

‘Jika cinta itu setia...
Ia pasti... akan hadir untuk menepati janjinya
Jika cinta itu setia...
Ia pasti... tak kan ragu datang meski segala rintangan menghadang
Jika cinta itu setia...
Ia pasti... tak kan berpaling’

Hanya suara nyaring jangkrik yang menemani ku malam ini, melamun duduk di atas ayunan tua beralaskan papan. Sebenarnya aku tidak melamun. Lebih tepatnya, aku hanya sedang menunggu seseorang datang menemuiku disini. Tapi, entah kapan ia akan datang. Aku tidak tahu. Mungkin kalau ada orang yang lewat taman ini setiap hari, orang itu akan menyebut ku orang gila. Kenapa aku berpikir seperti itu? Karena aku duduk disini setiap hari. Dari jam 7 malam, sampai jam 10 malam. Tidak peduli saat itu sedang ada badai atau hujan. Aku tetap datang kesini. Karena aku takut dia datang.

Ya. Perempuan itu adalah alasan kenapa aku melakukan ini semua. Namanya Sunni. Aku bertemu dengannya 2 tahun yang lalu di taman ini. Waktu itu aku masih mahasiswa semester satu disebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Pulang dari kampus, aku sempat kan untuk mampir ke taman ini hanya untuk menenangkan hati ku yang sedang kacau karena perceraian kedua orang tua ku. Dan saat itu aku frustasi karena aku jadi anak broken home.

Saat sedang asyiknya aku melamun di ayunan itu, tiba-tiba ada seorang perempuan yang datang menghampiri ku dan berkata “boleh gantian ga main ayunannya? Gue liatin dari tadi lu udah lama mainan ayunan ini. Gue kan juga mau. Gantian ya? Please” dengan nada memelas dan tampang yang innocent, membuat hati ku luluh.

“iya boleh. Nih” kata ku sambil menyerah kan ayunan itu padanya.
“makasih ya. Eh, boleh minta dorongin ga? Hihihi” dia tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putih dan rapih miliknya.
“emang ga bisa main sendiri? Gue mau pulang, udah sore”
“yaudah yaudah, kenalan dulu. Gue sunni”
“raka” sambil membalas jabatan tangannya.
“yaudah sono pulang. Hahaha”
“jih koplak” kataku agak jengkel, dan akhirnya aku memilih pulang.


Hari-hari berikutnya pun aku sering bertemu Sunni ditaman ini. Dan akhirnya kita jadi semakin akrab. Dari ceritanya aku tahu, bahwa Sunni sering sekali ke taman ini. Dia juga seorang mahasiswa baru di sebuah kampus swasta di Jakarta. Hari demi hari, ku rasakan aku semakin akrab dengannya. Aku sering mengantarnya pulang. Dan kita sering jalan-jalan. Dia setipe dengan ku. Kami sama-sama tidak menyukai kebisingan dan keramaian. Semakin hari semakin dekat. Sampai aku tak sadar akan jika aku menyukainya. Dan ku putuskan untuk memberitahunya soal perasaan ku ini. Dan aku ingin dia menjadi pacar ku.

Hari itu aku mengajak Sunni ke taman, seperti biasa. Dia duduk di ayunan, dan aku mendorongnya perlahan lahan. Setiap kali ayunan menghempaskan tubuhnya ke atas, ia selalu memejamkan matanya. Ketika matanya terpejam dan ayunan mulai melemah, aku buru-buru pindah ke hadapan Sunni, dan jongkok didepannya. Dan ketika Sunni membuka mata, kunyatakan perasaan ku padanya.

“Sun, gue suka sama lu. Gue sayang sama lu. Gue ga tau sejak kapan perasaan ini muncul. Yang jelas ini serius. Gue ga pernah ngerasain yang kayak gini sama cewek lain”
“.......” dia hanya diam.
“Sun, lu mau kan jadi pacar gue?”
“.......” dia masih diam, sampai beberapa menit setelahnya pun, kami hanya saling pandang.

Akhirnya ku beranikan diri memulai pembicaraan lagi “sorry ya Sun, gue ga bermaksud bikin lu kaget. Gue minta maaf juga, gue ga bisa nembak cewek dengan cara yang romantis.  Gue...  gue baru kali ini nembak cewek Sun. Kalo lu ga terima gue gapapa kok” aku menundukkan kepala ku, lesu.
Tiba-tiba ia tertawa “huahahahahahahahahaha... komuk lu kaaa!! Hahaha”
“kok lu malah ketawa sih? Gue serius tau!” aku dengan nada agak membentak. Dan Sunni diam lagi.
Tapi sedetik kemudian, wajahnya terlihat serius, dia memandangi ku sangat serius, dan berkata “iya. Gue mau jadi pacar lu”

Entah apa yang kupikirkan saat itu, aku melompat-lompat kegirangan mendengar jawabannya. Dan langsung memeluknya setelah melakukan hal bodoh itu.
“makasih ya Sun, makasih banget udah mau jadi pacar gue. Dan lu yang pertama”
“iya. Lu juga yang pertama kok buat gue”

Dan hari itu menjadi hari yang tak pernah bisa ku lupakan, hingga saat ini. Hari-hari ku menjadi lebih berwarna bersama Sunni. Dia tidak pernah memperlakukan aku seperti anak broken home. Ia sangat menyenangkan, ceria, dan aku mencintainya. Tidak terasa hubungan kami sudah satu bulan berjalan. Sampai suatu hari, cuaca sedang tidak mendukung, gerimis mulai turun, tapi ia bersikeras mengajak ku ke taman.
“ngapain sih ke sini? Kan ujan. Nanti kalo lu sakit gimana?” kata ku, sedikit kesal dengan tingkahnya hari ini yang jadi agak pendiam.

“gapapa, gue ga akan sakit kok. Gue pengen bilang sesuatu”
“mau ngomong apa? Emang ga bisa di rumah atau besok gitu?”
“......” hening sejenak. Matanya terlihat berkaca-kaca.
“lu sayang ka sama gue?”
“kenapa nanya kayak gitu sih? Udah jelas gue sayang banget sama lu. Dan lu tau itu”
“berarti lu sanggup kan nunggu gue disini?”
“maksudnya?” tanya ku bingung.

“ortu gue ngajak pindah ke Australia. Besok. Dan gue ga tau kapan gue bisa balik. Tapi gue janji bakal balik kesini buat lu. Lu sanggup nunggu gue?” tangisnya mulai pecah. Aku sendiri pun masih tidak percaya dengan ucapannya. Aku hanya bisa diam. Aku bingung. Bukan aku tidak mau menunggunya. Tapi aku bingung, apa jadinya aku nanti bila tidak ada Sunni disisi ku? Tapi, tidak bisa berbuat apa-apa. Malam itu kami lewat kan dalam keadaan diam, sampai di depan gerbang rumah Sunni.

“raka. Tungguin gue pulang. Suatu saat nanti gue bakal balik lagi kesini”
“iya. Tapi jangan lama-lama ya. Jangan nakal disana” aku mengecup keningnya, dan kemudian memeluknya. Setelah itu, hidup ku terasa hampa, tanpa bidadari penyemangat ku.


Sejak saat itu, aku selalu datang ke taman ini. Duduk di atas sebuah ayunan tua yang mulai rapuh. Tidak peduli hujan badai sekali pun, aku tetap datang ke sini. Aku takut, dia akan datang ketika aku tidak datang ke sini. Maka dari itu, aku selalu datang ke taman ini. Menunggunya hadir, tanpa tahu pasti kapan tibanya hari itu.

Komentar

Popular

CEPU

CEPU , setau gue itu adalah nama sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Blora, Jawa Tengah. Sayangnya gue lagi ga ngomongin tentang CEPU kecamatan, tapi arti lain dari kata CEPU jaman sekarang. Gue sendiri pun ga tau pasti kepanjangan CEPU itu apa. Awalnya gue berpikir kalo CEPU itu saudara kembarnya si CUPU , jadi gue kira kepanjangannya CEPU itu CELEN PUNYA , dan disitu gue merasa bodoh banget -_- karna ternyata CEPU itu istilah bukan kepanjangan. Huft banget -_- Sebenarnya CEPU itu masih masuk kedalam golongan manusia, tapi golongan manusia ‘muka dua’ . CEPU itu artinya: orang/teman/sahabat yang mementingkan dirinya sendiri, dan melakukan berbagai macam cara agar kepopularitasannya bertambah, meskipun harus mengorbankan orang-orang terdekatnya seperti teman/sahabat. CEPU termasuk orang yang berbahaya. Sebagian orang berpendapat kalau CEPU itu harus dimusnahkan. Sebenernya gue kurang setuju, bagaimana pun juga CEPU tetap manusia punya rasa punya hati (kaya...

CABE VS TERONG

Ok sip, kali ini gue akan bahas sesuatu yang lagi jadi trend saat ini. Yaitu CABE . Pada tau ga? Pasti pada tau dong. Lagi naik daun gitu loh (iklan teh pucuk kali.. haha). Cabe yang mau gue bahas sekarang bukan cabe sembarang cabe loh. Ga cuma ‘ Hot ’ tapi juga bikin batuk kalo salah beli (hayo pikirannya yaaa -_-) hahaha. Awalnya gue ga tau soal cabe-cabean. Kalian tau ga, gue tau soal cabe-cabean dari siapa? Dari TUKANG SAYUR di pasar!! Bayangin, sebelum gue tau, itu tukang sayur udah tau duluan. Astagfirullah -_- jadi awalnya gini. Waktu itu ibu gue mau bikin sambel, kebetulan stok cabe (cabe asli loh =_=) di kulkas (nah kan, ga mungkin gue simpen cabe-cabean dikulkas ;) udah abis, jadi beliau minta tolong gue buat beli cabe dipasar. Pas gue sampe pasar, warung yang didepan udah pada tutup (karna posisinya waktu itu udah siang menjelang sore) akhirnya gue beli dibelakang pasar, di warungnya Parimin (bukan nama sebenarnya). Gue : “bang, beli cabe merah 5 ribu sama cabe ra...

Waktu Yang Akan Menjawab

Bismillahirrahmanirrahim. Waktu itu terus berjalan sepanjang waktu. Siang berganti malam, malam berganti pagi dan pagi berganti siang. Berjalan hingga membentuk sirkulasi roda kehidupan. Terkadang, kita lupa untuk bersyukur. Tatkala kita sedang bergembira atas sesuatu, pasti setidaknya kita pernah lupa bersyukur, meski tidak setiap waktu.

C.U.R.H.A.T

Harus kah gue sedih hari ini? Harus kah gue menyesal dengan semua yang terjadi hari ini? Satu lagi.. Harus kah gue galau? :'( Gue ga tau harus gimana lagi. Di bilang hari paling sial, engga juga (kayaknya setiap hari ada aja deh sialnya -_-) Apa gue harus nangis? (please, pantang nangis!) Kalo engga semua terus gue harus ngapain? kasih gue saran dong my bloooog! (blog lu itu ga bisa ngomong dodol >> 'oh iya lupa -_-') Dan sepertinya gue mulai gila dengan semua keadaan ini. Hari ini semua orang nyuekin gue. Tanpa terkecuali si doi. Dan gue bener-bener sadar kalo ada pepatah yang nancep banget dihati gue >> "Abis manis jadi sepet terus dibuang" sial emang -_- Iya gue tau gue bukan siapa siapa di mata mereka. Tapi gue lebih sadar lagi, mereka ga akan jadi siapa siapa tanpa gue hehe (harusnya semua orang yang lagi galau berpikiran seperti itu, supaya persentase orang galau di Indonesia bahkan di dunia berkurang hihi :D) Curhat? Kayaknya gue akan ...

Jodoh di Tangan Tante Mia

Assalamualaikum, selamat ( jawab sendiri ya, haha ) Tadinya gue ga jadi nge-post cerita ini, soalnya mirip sama cerita senior gue. Tapi setelah gue pikir-pikir, mirip itu ga berarti sama kan? Jadi boleh dong gue posting? haha Jadi lah akhirnya gue posting nih cerita, haha *piiiss buat abang yang tersebut #itu juga kalo ente baca wkwkwk. Ini cerita nyata yang gue alamin sendiri. Coba dibaca aja dulu ya ceritanya, jangan cuma judulnya doang yang dibaca abis itu lu pada ngacir haha :D Langsung aja yak. ~ii~ Kalo ga salah ( berarti bener ) waktu itu hari Senin, saat gue lagi asik baca buku, tiba-tiba hp gue mengeluarkan bunyi nada dering nokia tune, yang menandakan kalo ada sms masuk. Dengan cepat gue baca isi sms nya yang berbunyi "Hai indri, lagi apa?" dan dengan polos ( intinya sih bego ) nya, gue bales "Lagi belajar bege! Pake nanya lagi!" dan ga sampai semenit, itu nomer bales sms gue lagi, dan ga kalah polosnya sama gue, dia bilang "K...